Inspirasi
Home » Berita » Ali Mochtar Ngabalin: Mubaligh dari Timur yang Meretas Jalan Kebangsaan dan Keumatan

Ali Mochtar Ngabalin: Mubaligh dari Timur yang Meretas Jalan Kebangsaan dan Keumatan

islahuna.com―Di balik sorotan media dan jabatannya selama masa di Istana, Ali Mochtar Ngabalin adalah cerminan dari sebuah perjalanan epik. Lahir dan besar di Fakfak, Papua Barat, ia adalah anak dari tanah timur yang kaya akan adat dan kearifan lokal. Lahir dari keluarga bangsawan Arguni, Ngabalin tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga tanggung jawab untuk mengayomi dan berjuang bagi masyarakat. Ini bukan sekadar detail biografis, melainkan akar yang membentuk seluruh narasi hidupnya. Ngabalin tidak datang dari pusat, melainkan dari tepi, membawa perspektif yang unik dan suara yang berbeda ke jantung kekuasaan. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa Indonesia adalah rumah bagi setiap anak bangsa, di mana pun mereka dilahirkan. Kini melalui Bakomubin ―sebuah organisasi mubaligh yang ingin menghimpun potensi terbaik juru dakwah di Indonesia― Ali Mochtar Ngabalin merajut keislaman dan keindonesiaan melalui dakwah yang ramah, moderat, dan inklusif di tengah masyarakat Indonesia.

Dari Fak-Fak, Ilmu Merajut Kebangsaan

Jalur pendidikan Ngabalin, dari Madrasah Mualimin Muhammadiyah di Makassar hingga jenjang doktoral di Universitas Negeri Jakarta, adalah sebuah jembatan yang menghubungkan tanah kelahirannya dengan pusat-pusat ilmu. Ia tidak hanya menyerap ilmu agama, tetapi juga ilmu komunikasi, yang memberinya kemampuan untuk mengemas pesan-pesan kebangsaan dengan cara yang mudah dipahami dan penuh gairah. Latar belakangnya dari timur membuatnya peka terhadap isu-isu marginalitas dan perbedaan. Dari sanalah, ia melihat bahwa keumatan sejati bukanlah tentang identitas kelompok yang eksklusif, tetapi tentang bagaimana seluruh umat, dengan segala perbedaannya, dapat hidup berdampingan.

Menjadi Jembatan di Tengah Perbedaan

Ngabalin sering kali dianggap sebagai sosok yang kontroversial. Namun, di balik itu, ia memainkan peran penting sebagai penghubung antara berbagai golongan. Sebagai putra timur, ia memahami pentingnya persatuan di tengah keragaman. Dalam setiap ceramah dan kiprah politiknya, ia selalu menekankan bahwa keumatan sejati harus menjadi penjaga bangsa, bukan pemecah belah. Ia dengan tegas menolak narasi ekstremisme yang mengancam persatuan, dan sebaliknya, mempromosikan Islam yang moderat dan toleran, sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh para ulama nusantara. Pengukuhan Ali Mochtar sebagai Guru Besar di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan, pada Agustus 2024, adalah pengakuan global atas perjuangannya. Ini menunjukkan bahwa visinya tentang keumatan yang inklusif dan moderasi beragama bukan hanya relevan di Indonesia, tetapi juga diakui secara internasional. Ia adalah duta dari timur yang memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang ramah dan damai ke dunia.

Wanita PUI Majalengka Gelar RAHMAH: Tabligh Akbar, Santunan Yatim, hingga Cek Kesehatan Gratis

Warisan dari Sang Anak Timur

Kisah Ali Mochtar Ngabalin adalah sebuah manifesto. Ngabalin bukan lagi sekadar seorang orator yang menggelegar di podium, atau pejabat negara yang sibuk di koridor Istana. Atau bukan saja sekedar pemikir strategis di Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Partai Golkar, tempatnya kini mengabdikan politik sebagai ikhtiar kebangsaan untuk mendukung partainya dalam memecahkan masalah-masalah Indonesia dalam geopolitik kawasan. Melampaui Lebih dari itu, ia telah menjadi seorang narator kebangsaan yang menganyam kisah-kisah persatuan, dan penjaga keumatan yang tak pernah lelah merawat persaudaraan. Namun, warisan terbesarnya adalah sebagai anak timur yang telah membentangkan permadani jalan besar bagi mereka yang datang setelahnya. Kisah hidupnya bukan hanya tentang sebuah pencapaian, tetapi tentang sebuah pengorbanan dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia membuktikan bahwa dari sudut paling jauh di negeri ini, seorang anak bisa berdiri tegak, membawa suara kebenaran, dan menginspirasi jutaan orang. Kisahnya adalah bisikan yang mengingatkan kita: bahwa di setiap denyut jantung, di setiap perbedaan yang kita peluk, dan di setiap langkah kita menuju masa depan, kita adalah satu. Kisah Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si menggerakkan kita untuk berani merajut harmoni, merawat perbedaan sebagai anugerah, dan menjaga Indonesia tetap utuh, selamanya. []

Sumber Foto : Dok. Pribadi

(Azm; Andy)

Kang Poer: Dai adalah Pembelajar Sepanjang Hayat

Related Posts

Comment

  1. H. Sutikno says:

    Berita yang sangat informasif dengan kemasan info info kekinian yang busa dipahami oleh masyarakat dan diimplementasikan oleh khalayak pada umumnya membuat siapapun yang membacanya mudah memahami perkembangan informasi saat sekarang , sehingga masyarakat bisa melihat kondisi keummatan yang perlu di dukung ,baik melalui materi, ataupun do’a sehingga menghasilkan keummatan yang baldatun toyibatun warobbun ghofur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *