Di sebuah sudut pesantren di Jawa Barat, deru suara santri yang membaca Al-Qur’an berpadu dengan riuh kegembiraan mereka saat mengikuti pelatihan kewirausahaan sederhana. Dari membatik, bercocok tanam, hingga berjualan produk UMKM, para santri itu menunjukkan wajah pesantren yang tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga pengembangan keterampilan hidup. Pemandangan ini merefleksikan arah perjuangan Persatuan Ummat Islam (PUI), organisasi Islam yang sejak kelahirannya menjadikan dakwah dan pendidikan sebagai pilar utama gerakan.
Jejak Panjang Gerakan Dakwah dan Pendidikan PUI
PUI bukanlah nama asing dalam peta sejarah Islam di Indonesia. Organisasi yang berakar dari gagasan besar K.H. Abdul Halim di Majalengka dan K.H. Ahmad Sanusi di Sukabumi ini, lahir dari semangat Islah (perbaikan) pada awal abad ke-20. Tidak semata fokus pada perlawanan politik terhadap kolonial, PUI juga memilih jalur tambahan: memperbaiki umat melalui dakwah dan pendidikan.
Pesantren dan sekolah yang mereka dirikan bukan sekadar lembaga pengajaran agama, melainkan wadah pembentukan karakter, pusat pemberdayaan, bahkan benteng peradaban. Dari masa ke masa, narasi itu tetap terjaga: pendidikan harus membumi, dekat dengan realitas sosial, dan relevan dengan tantangan zaman.
Pesantren Produktif: Antara Dakwah, Ilmu, dan Kemandirian
Kini, di era modern, wajah pesantren PUI semakin adaptif. Selain memperkuat ilmu agama, kurikulum pesantren diarahkan pada penguasaan sains, teknologi, hingga ekonomi syariah. Misalnya, di beberapa pesantren PUI di Jawa Barat, santri dilibatkan langsung dalam pengelolaan usaha produktif berbasis wakaf. Ada yang menggarap lahan pertanian, ada yang belajar digital marketing, bahkan ada yang berlatih manajemen bisnis sederhana.
Gerakan wakafpreneur pendidikan menjadi ciri khas baru. Aset wakaf yang dulu hanya terbatas pada lahan dan bangunan kini diolah secara profesional untuk menopang pendidikan dan kesejahteraan. Program 5C (Campaign, Create, Convert, Competent, Comply) yang digaungkan PUI mendorong agar pengelolaan wakaf dilakukan secara transparan, inovatif, dan memberi manfaat luas.
“Santri dari pesantren PUI bukan hanya dituntut memahami teks agama, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan sosial-ekonomi di masyarakat,” ujar Dr. Sunarto, M.Pd., Ketua Departemen Pendidikan Dasar PUI, saat ditemui usai kegiatan pelatihan guru madrasah di Jawa Barat.
Pendidikan Membumi: Visi PUI di Abad Kedua
Refleksi ke depan, sebagaimana disampaikan Syamsudin Kadir (Wasekum PUI Jabar), menegaskan bahwa abad kedua PUI adalah momentum untuk memperkuat infrastruktur pendidikan dan kaderisasi. PUI bertekad menata ulang lembaga pendidikan dari madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi agar lebih terintegrasi, modern, dan berorientasi pada pengabdian masyarakat.
Dr. Sunarto menambahkan bahwa PUI sedang fokus menanamkan tiga nilai penting dalam pendidikan: spiritualitas, kompetensi, dan kebangsaan.
“Kami percaya, dakwah dan pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas atau mimbar. Pendidikan harus melahirkan generasi yang cerdas, mandiri, dan mencintai bangsanya. Itulah cara PUI ikut mencetak generasi harapan bangsa,” ujarnya.
Kisah Santri: Dari Pesantren ke Masyarakat
Kisah-kisah nyata para santri PUI menjadi bukti konkret. Ada yang pulang ke kampung halaman membuka usaha tani organik, ada yang mengembangkan aplikasi dakwah digital, bahkan ada yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan menjadi dosen. Mereka adalah wajah generasi baru yang memadukan kecakapan agama dan keterampilan hidup.
Seorang alumni pesantren PUI di Majalengka, misalnya, kini sukses mengembangkan usaha kuliner berbasis produk halal. “Apa yang saya dapat di pesantren bukan hanya ilmu agama, tapi juga keberanian untuk mandiri dan berkontribusi di masyarakat,” ujarnya saat ditanya tentang perjalanan hidupnya.
PUI dan Indonesia Sejahtera
Lebih jauh, PUI memandang pendidikan sebagai motor menuju kesejahteraan nasional. Dengan membangun manusia berkarakter, terampil, dan religius, PUI yakin umat Islam bisa berperan lebih besar dalam memperkuat ekonomi bangsa dan memperkokoh harmoni sosial.
Dari bilik-bilik pesantren hingga ruang kelas madrasah, dari sawah wakaf hingga ruang seminar perguruan tinggi, spirit PUI bergerak membumi. Ia mengalir melalui doa, kerja keras, dan komitmen untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
(Azm)


Comment