Jakarta – Persatuan Ummat Islam (PUI) semakin meneguhkan langkahnya dalam membangun jejaring internasional dan memperkuat peran kebangsaan. Pada Jumat (22/08/2025), Bidang Hubungan Luar Negeri (HLN) DPP PUI melakukan audiensi dengan Anggota DPR RI Fraksi PKS, Habib Idrus Salim Al Jufri, di Kompleks DPR RI, Senayan Jakarta.
Dalam diskusi tersebut, Habib Idrus yang juga Sekjen Justice Democratic Forum (JDF) menekankan pentingnya PUI menjaga tradisi panjangnya dalam dakwah dan pendidikan, sekaligus mempersiapkan program-program berkelanjutan yang bisa diwariskan untuk kemaslahatan bangsa.
“PUI harus mewariskan kebaikan yang sifatnya berjangka panjang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan generasi penerus dan umat Islam secara keseluruhan. Itu berarti PUI tidak boleh berhenti hanya di tingkat nasional, melainkan juga harus berani menegakkan peran global,” ungkap anggota DPR RI Dapil Banten III itu.
Habib Idrus menilai, potensi PUI sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia sangat besar. Dengan lebih dari 20 juta anggota dan ribuan lembaga pendidikan, PUI disebutnya memiliki modal sosial untuk menjadi motor penggerak dakwah dan advokasi kemanusiaan lintas negara. Ia mendorong agar PUI membangun kerja sama yang erat dengan berbagai pihak—mulai dari parlemen, kementerian, hingga organisasi internasional seperti JDF di Malaysia dan Al Ittihad Al Alamy di Qatar.
Jejaring Global: Dari Nusantara hingga Konferensi Internasional
Ketua Bidang HLN DPP PUI, Dr. Adhe Nuansa Wibisono, dalam kesempatan itu memaparkan langkah internasional PUI yang sudah ditempuh. Perjumpaan Wibisono dengan Habib Idrus terkait masalah-masalah kemanusiaan dan keumatan sebetulnya telah dimulai Ketika keduanya bertemu di negeri Jiran, ketika menghadiri Konferensi Internasional tingkat Asia Pasifik yang . diselenggarakkan oleh IAIS Malaysia. Dalam konferensi internasional di Kuala Lumpur yang menyerukan pentingnya pembentukan aliansi strategis Asia-Pasifik untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Dalam forum yang pada waktu itu dihadiri tokoh-tokoh internasional seperti Dr. Wadah Khanfar (mantan Direktur Al Jazeera), Dr. Mazlee Malik (mantan Menteri Pendidikan Malaysia), dan Nurul Izzah Anwar, PUI menegaskan pentingnya diplomasi kemanusiaan, penggalangan dana lintas negara, serta pembentukan koalisi permanen Asia-Pasifik untuk membuka blokade terhadap Palestina.
Di forum tersebut, Wibisono juga sempat bertukar pikiran dengan Habib Idrus yang hadir sebagai representasi JDF. Pertemuan lintas panggung itu menunjukkan kedekatan keduanya dan menjadi fondasi kuat bagi silaturahim lanjutan di Jakarta kali ini.
“Kami melihat sinergi dengan JDF dan berbagai mitra internasional sebagai langkah strategis. PUI hadir bukan hanya untuk kepentingan internal, tapi juga untuk menyumbang pada perjuangan kemanusiaan global,” tegas Wibisono.
Menuju MoU Strategis

Audiensi dengan Habib Idrus menjadi kelanjutan dari ikhtiar PUI membangun kerja sama kelembagaan. Habib Idrus membuka ruang bagi PUI untuk resmi bergabung dengan JDF melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Selain itu, ia juga menekankan perlunya PUI memiliki “signature project” di level internasional, seperti rumah sakit atau universitas unggulan, agar kontribusinya lebih mudah dikenali dunia.
Pertemuan ini ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk saling memperkuat komunikasi dan kolaborasi. Baik di tingkat nasional maupun internasional, PUI menegaskan tekadnya untuk terus bertransformasi menjadi organisasi Islam yang tidak hanya membumi di Tanah Air, tetapi juga mendunia dengan kontribusi nyata dalam isu-isu kemanusiaan dan peradaban. []


Comment