Oleh: KH. Nazar Haris, MBA.
Bayangkan…
Bayangkan sebuah hari ketika semua tabir dunia sudah tersingkap. Hari di mana setiap jiwa berdiri sendirian di hadapan Rabbnya. Tidak ada lagi tawa pesta, tidak ada lagi hiruk pikuk kehidupan dunia. Semua yang dulu kita banggakan lenyap. Yang tersisa hanyalah amal kita—kecil ataupun besar, ikhlas ataupun penuh riya.
Bayangkan… kita berada di pintu surga. Cahaya begitu terang, udara penuh kesejukan, suara malaikat menyambut dengan ucapan salam:
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian, maka sungguh sebaik-baik tempat kesudahan adalah surga.” (QS. Ar-Ra‘d: 24).
Hati kita penuh rasa syukur, lidah lirih berucap “Alhamdulillah…” karena setelah perjalanan panjang penuh dosa, taubat, air mata, dan doa, Allah akhirnya menerima kita.
Namun tiba-tiba…
Orang Tua Kita di Belakang
Kita menoleh. Terlihat sosok orang tua kita. Rambutnya memutih, wajahnya penuh keriput. Mata mereka basah, langkahnya tertatih. Mereka berjuang melewati shirath—jembatan lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang.
Sementara kita sudah berada di dalam surga, dikelilingi taman-taman hijau, sungai-sungai mengalir, buah-buahan jatuh ke pangkuan. Kita merasa nikmat. Tapi di sudut hati, ada perih: orang tua kita, yang dulu membesarkan kita dengan kasih sayang, masih tertatih menuju surga.
Apakah kita sanggup duduk santai sementara mereka berjuang sendirian?
Mungkin kita akan berteriak, “Ya Allah! Itu ayahku… itu ibuku… Jangan biarkan mereka tertinggal!”
Kita baru sadar: amal pribadi saja tidak cukup. Doa anak shalih, amal jariyah, dan pahala yang kita hadiahkan mungkin jadi penolong mereka. Betapa menyesalnya kita bila di dunia terlalu sibuk hingga lupa mendoakan, lupa menuntun mereka untuk istiqamah.
Kerabat Dekat yang Kita Sayangi
Bayangkan lagi. Kita melihat seorang kerabat dekat—paman, bibi, saudara sepupu—orang yang sejak kecil begitu baik pada kita. Ia sering menggendong kita, menolong kita.
Namun di akhir hayatnya, ia lalai. Ia meninggalkan shalat, meremehkan kewajiban. Ia berkata, “Ah, nanti saja… Allah Maha Pengampun.” Kini, di hadapan kita, ia tersandung menuju surga. Amalnya banyak, tapi runtuh karena pondasi terpenting—shalat—hilang.
Nabi ﷺ bersabda:
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمن تركها فقد كفر
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi).
Kita ingin menolongnya, tapi tangan kita terikat. Kita menyesal, “Seandainya dulu aku sering menasihatinya… seandainya aku menangis di hadapannya agar ia sadar…” Tapi semua terlambat.
Sosok yang Kita Kagumi
Bayangkan lagi. Ada sosok yang dulu kita kagumi: seorang tokoh, idola, atau guru. Kita pernah menyanjungnya, meniru gaya hidupnya.
Namun kini… ia berada di neraka. Tubuhnya diguyur cairan tembaga panas, kulitnya terkelupas, jeritannya menggema. Kita terkejut, “Ya Allah… bagaimana bisa orang sehebatan dia kini sehina ini?”
Kita teringat: di balik kemegahannya, ada kesombongan. Ada dosa yang ia sembunyikan. Ada kezhaliman yang ia biarkan. Semua itu kini dibalas dengan azab.
Sadarilah, kekaguman pada manusia harus diukur dengan takwa, bukan pencapaian duniawi. Betapa bodohnya bila dulu kita mengidolakan orang hanya karena kepopuleran atau hartanya, padahal ia jauh dari Allah.
Bagaimana Jika Itu Kita?
Dan kini… bayangkan. Semua kisah itu bukan tentang orang tua, bukan kerabat, bukan idola. Tapi tentang kita.
Bayangkan kita yang berjalan di shirath dengan kaki gemetar. Bayangkan kita yang ditarik ke neraka karena dosa-dosa. Bayangkan kita menjerit, “Ya Allah! Tolong aku!” tapi suara kita tenggelam di lautan jeritan lainnya.
Sementara orang-orang yang kita cintai sudah berada di surga. Mereka duduk di bawah naungan pohon, bercengkerama. Mereka menoleh ke arah kita dengan wajah sendu, tapi tak bisa menolong.
Allah berfirman:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya masing-masing.” (QS. Abasa: 34–37).
Tidakkah kita gemetar membayangkannya?
Waktu Masih Ada
Sahabatku, bayangan-bayangan ini bukan sekadar imajinasi. Ia peringatan agar kita sadar sebelum terlambat. Surga dan neraka itu nyata. Shirath itu nyata. Penyesalan di akhirat itu nyata.
Hari ini, kita masih bisa shalat dengan khusyuk. Kita masih bisa menangis di sepertiga malam. Kita masih bisa berbakti pada orang tua, menasihati kerabat, memilih panutan yang benar. Kita masih bisa memperbanyak istighfar, sedekah, amal jariyah.
Jangan tunggu sampai pintu taubat tertutup. Jangan tunggu sampai malaikat maut datang. Jangan tunggu sampai hanya bisa berkata, “Seandainya…”
Bayangkan… jika kita menyiapkan diri sekarang, kelak di surga kita akan tersenyum bersama orang tua, bersama kerabat, bersama orang-orang shalih. Kita akan saling menyapa, saling merangkul, dan berkata, “Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan kita.”
Doa dan Renungan
اللَّهُمَّ اجعلنا وأهلينا وأحبابنا من أهل الجنة، ولا تحرمنا لذَّة النظر إلى وجهك الكريم. اللَّهُمَّ احشرنا مع آبائنا وأمهاتنا في الفردوس الأعلى، واغفر لنا ولهم ولجميع المسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات.
“Ya Allah, jadikanlah kami, keluarga kami, dan orang-orang yang kami cintai termasuk ahli surga. Jangan Engkau haramkan kami dari kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama orang tua kami di surga Firdaus, ampuni mereka, ampuni kami, dan ampuni seluruh kaum Muslimin—yang hidup maupun yang telah wafat.”
Renungilah doa ini. Sebab waktu masih ada. Hari ini kita bisa memilih: apakah kelak ingin berjalan sendirian dengan tertatih, atau masuk surga bersama-sama dengan penuh senyum.


Comment