Buletin Opini
Home » Berita » Kepemimpinan Lintas Generasi Sebagai Jembatan Menuju Indonesia Emas 2045

Kepemimpinan Lintas Generasi Sebagai Jembatan Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: Muhammad Imam Al Fatih*

 

“Bang, kenapa sih yang wapres kita kayak gitu?”
“Gitu gimana?”
“Ya kelihatannya kayak nggak kompeten gitu loh, padahal jabatannya strategis.”

Percayalah, percakapan singkat di atas benar-benar keluar dari mulut seorang anak berusia 16 tahun yang bertanya pada abangnya. Bayangkan, Ia hanyalah remaja biasa dengan berita yang sering berseliweran di ponselnya.

Mengapa pertanyaan semacam itu bisa muncul? Jujur, saya pun tak sepenuhnya tahu. Namun, jika boleh berpendapat, mungkin karena ia telah muak, muak melihat berita, potongan video, dan perdebatan publik yang setiap hari berseliweran di layar kecilnya, namun tak kunjung memberi harapan.

Dakwah dan Pendidikan yang Membumi: Upaya PUI Mencetak Generasi Harapan Bangsa

Kita hidup di era disrupsi, sebuah zaman ketika perubahan berlangsung lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencerna. Ketidakharmonisan sosial kerap ditemui, diperparah oleh kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Dari generasi baby boomer hingga generasi Alpha, setiap generasi memiliki linimasanya masing-masing sehingga mereka memaknainya dengan cara yang sangat berbeda. Di sinilah jarak antargenerasi mulai terasa nyata.

Sebagian Gen Z cenderung fokus terhadap kesehatan mental, inklusivitas, dan transparansi yang mungkin hal-hal ini sebelumnya tidak begitu mencolok. Lantas mengapa harus hal-hal tersebut? Karena dewasa ini kita tumbuh bersama internet, banyak Gen Z tumbuh dalam lingkungan dengan akses informasi yang terbuka lebar, membentuk kebiasaan bersuara, bersikap kritis, serta menuntut transparansi dalam berbagai aspek kehidupan.

Sementara itu, Gen Alpha yang bahkan sejak balita telah hidup bersama layar sentuh dan algoritma akan tumbuh dengan cara berpikir yang jauh lebih cepat, visual, dan praktis. Mereka lahir sebagai pribumi yang bersahabat dengan IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Intelligence). Karena paparan teknologi, Gen Alpha akan menghadapi tantangannya tersendiri yang berkaitan dengan empati, fokus, dan interaksi sosial.

Perbedaan pengalaman sosial dan teknologi yang dialami kedua generasi ini menciptakan jarak cara pandang yang cukup signifikan, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami sebagai konsekuensi dari konteks zaman yang berbeda. Meski begitu, kedua generasi  tidak serta-merta menyerahkan kepercayaannya kepada otoritas hanya karena jabatan atau usia. Legitimasi bagi mereka lahir dari kompetensi, keteladanan, dan kejujuran.

Sekarang mari kita merenungkan satu hal penting: betapa krusialnya kepemimpinan yang mampu merangkul dan menjembatani perbedaan lintas generasi yang kelak akan memegang peran paling besar dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, yakni Gen Z dan Gen Alpha.

Tekanan Pekerjaan Menghantui Gen Z di Kota Besar: Dampak pada Kesehatan Mental

Menurut sebuah artikel di situs indonesiabaik.id, menunjukkan bahwa pada tahun 2045, Indonesia akan menikmati bonus demografi, yakni sekitar 70 persen penduduk berada pada usia produktif. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan harapan dan optimisme untuk kemajuan Indonesia.

Namun, bonus demografi dapat dengan mudah berubah menjadi bencana demografi jika tidak dikelola dengan kepemimpinan yang tepat. Tanpa pemimpin yang mampu memahami denyut nadi generasi muda, potensi besar ini justru akan terbuang sia-sia.

Kepemimpinan lintas generasi menuntut lebih dari sekadar pengalaman panjang atau gelar mentereng. Ia menuntut kemampuan mendengar, keberanian untuk mengakui keterbatasan, serta kesediaan untuk belajar dari generasi yang lebih muda. Pemimpin masa depan harus mampu menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang dipahami anak muda, hadir di ruang digital tanpa kehilangan substansi, dan mengambil keputusan berbasis data serta empati.

Dalam sebuah wawancara bersama Mudir Pondok Pesantren Darul Arqam. Ia berpendapat bahwa model kepemimpinan yang relevan untuk menjembatani Indonesia Emas 2045 adalah purpose-driven leadership atau kepemimpinan yang mengutamakan kebermaknaan daripada instruksi.

Kebermaknaan maksudnya adalah mengedepankan nilai bersama sebelum kepentingan eksistensi semata. Pemimpin yang merangkul dan menyelaraskan berbagai perbedaan dan menanamkan nilai dari perbedaan sebagai motor penggerak bersama.

Tips Memilih Sepatu Marathon yang Sesuai untuk Menunjang Kenyamanan dan Performa

Gen Z dan Gen Alpha memiliki berbagai perbedaan meski hidup berdampingan dengan teknologi. Tapi dari perbedaan itu mereka hanya perlu untuk setidaknya dimengerti dan disatukan dalam satu nilai yang keduanya yakini. Maka memimpin dengan kebermaknaan bukanlah omong kosong bagi mereka, justru itulah yang mereka butuhkan.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pun mengalami hal serupa. Para kadernya kini adalah Gen Z akhir dan Gen Alpha. Merekalah yang bergerak di akar rumput (pimpinan cabang dan ranting). Tentu saja banyak kemajuan yang terjadi. Contohnya, saat ini kita sebagai kader dapat bertukar relasi lintas pimpinan dengan sangat mudah. Belum lagi ketika mengadakan perkaderan, acap kali kita mengadaptasi sistem gamifikasi supaya relevan bagi warga belajarnya.

Namun, ini juga membawa satu tantangan yakni apakah kita masih bisa menjadi kader yang menerapkan nilai-nilai ideologis di kehidupan sehari-hari atau hanya menjadi pimpinan yang memegang jabatan saja tanpa memahami nilai dari IPM itu sendiri.

Kiranya, inilah tantangan yang membuat kita perlu menjadi seorang purpose-driven leader bagi mereka yang ada di akar rumput ini. Supaya dengan berbagai nilai plus yang dimiliki Gen Z dan Gen Alpha menjadikan IPM membawa kemaslahatan dan keberdampakan yang lebih luas lagi.

Percakapan sederhana antara seorang remaja dan abangnya seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Ketika anak usia 16 tahun mulai mempertanyakan kompetensi pemimpinnya, itu bukan sekadar bentuk kenakalan atau sikap sok tahu. Itu adalah tanda bahwa generasi baru sedang menilai, mengamati, dan bersiap mengambil alih panggung sejarah. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mereka siap memimpin, melainkan apakah kita siap menghadirkan kepemimpinan yang layak mereka percayai.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari pemimpin yang menutup telinga terhadap suara generasi muda. Ia hanya akan terwujud melalui kepemimpinan yang mampu menjembatani perbedaan, merangkul lintas generasi, dan menatap masa depan dengan keberanian serta kebijaksanaan.

Maka, sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton yang pasif. Gen Z dan Gen Alpha tidak boleh hanya diposisikan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek perubahan. Kita perlu mulai menuntut, mendorong, dan bila perlu melahirkan sendiri pemimpin yang mampu mendengar lintas generasi, berpikir jauh ke depan, dan bertindak dengan integritas serta membawa kebermaknaan.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar janji negara, melainkan tanggung jawab kolektif. Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah kita akan membiarkan masa depan ditentukan oleh pemimpin yang tak kita percayai, atau berani mengambil peran untuk memastikan bangsa ini dipimpin oleh mereka yang layak dipercaya?

*Juara 1 Musabaqoh Fahmil Qur’an Nasional di Makassar 2026

Alumni Taruna Melati 2 Klaten

 

Comment

  1. dika says:

    waw keren banget bro
    semoga generasi kita punya lebih banyak orang yang kayak gini

  2. waw keren banget bro
    semoga generasi kita punya lebih banyak orang yang kayak gini

  3. ibarat tan malaka idup lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *