Oleh Fitri Arisanti, Lina Adhani, Nova Nurfadilah
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darunnajah Jakarta
Pendidikan karakter dalam kurikulum modern semakin menjadi topik penting di tengah perubahan zaman yang pesat, ditandai dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang mempengaruhi pola pikir serta perilaku generasi muda. Tujuan dari pendidikan karakter adalah membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan emosional, empati, dan sikap etis dalam kehidupan sosial mereka. Namun, banyak sistem pendidikan modern yang lebih menekankan pencapaian akademik dan keterampilan teknis daripada pengembangan karakter yang kokoh (Wongkar & Pangkey, 2024). Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa karakter moral generasi muda tidak berkembang dengan optimal.
Pendidikan Karakter dalam Konteks Pendidikan di Indonesia
Pendidikan karakter merupakan proses untuk membentuk integritas, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan, baik dalam pembelajaran formal maupun informal (Yunanto & Kasanova, 2023). Selain itu, nilai-nilai moral perlu diajarkan secara langsung dan terus menerus, tidak hanya di ruang kelas tetapi juga melalui budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter siswa.
Pendidikan karakter sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan sosial yang kompleks, seperti radikalisasi, kekerasan, dan ketidakadilan sosial yang semakin marak. Tanpa pendidikan karakter yang kuat, generasi mendatang mungkin kesulitan menghadapi tantangan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum yang berorientasi pada pengembangan karakter akan sangat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 yang menekankan pendidikan yang berkualitas dan SDG 16 yang mengarah pada terciptanya masyarakat yang damai, adil, dan inklusif (Mongkau & Pangkey, 2024).
Hubungan Pendidikan Karakter dengan Maqasid Syariah
Pendidikan karakter yang berlandaskan pada prinsip Maqasid Syariah (tujuan utama syariah) memiliki relevansi besar dalam membentuk individu yang tidak hanya cerdas tetapi juga etis dan berkeadilan. Maqasid Syariah menekankan lima tujuan pokok: menjaga agama, kehidupan, akal, keturunan, dan harta. Pendidikan karakter harus melibatkan nilai-nilai moral yang selaras dengan prinsip-prinsip ini, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap perbedaan (Mursyidi et al., 2024). Sehingga, melalui pendidikan yang berbasis Maqasid Syariah, generasi yang dihasilkan tidak hanya memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjalani kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip moral yang kuat.

Tantangan dalam Mengintegrasikan Pendidikan Karakter
Mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum modern menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan waktu dalam kurikulum yang lebih memprioritaskan pencapaian akademik. Kurikulum yang berfokus pada ujian dan angka rapor seringkali mengesampingkan pendidikan karakter, yang dipandang sebagai kegiatan ekstrakurikuler terpisah dari mata pelajaran inti (Mongkau & Pangkey, 2024). Selain itu, banyak guru yang belum mendapatkan pelatihan memadai untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran mereka. Pendidikan karakter memerlukan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan teori tetapi juga keteladanan dan pengalaman praktis yang mengajarkan moral secara langsung (Azmi et al., 2023).
Solusi untuk Mengintegrasikan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum
Solusi utama untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan merancang kurikulum yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memasukkan pendidikan karakter sebagai bagian integral dari setiap mata pelajaran. Pendidikan karakter tidak boleh dianggap sebagai pelengkap atau tambahan, tetapi sebagai komponen utama dalam pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu, kurikulum harus diubah untuk mengintegrasikan nilai-nilai moral seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial dalam seluruh aspek pembelajaran (Azmi et al., 2023).
Selain itu, guru perlu diberikan pelatihan yang cukup untuk dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan baik dalam proses pembelajaran mereka. Pelatihan ini harus mencakup teknik mengajar yang berfokus pada pengembangan karakter dan pemahaman nilai-nilai moral, serta kemampuan untuk menjadi teladan yang baik bagi siswa (Windayanti et al., 2023). Dengan demikian, guru tidak hanya mengajar materi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Konteks SDGs dan Maqasid Syariah
Integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum modern sangat penting untuk mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Masyarakat yang Damai, Adil, dan Inklusif). Pendidikan karakter berbasis Maqasid Syariah dapat membantu menciptakan generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih damai, adil, dan inklusif. Dalam konteks ini, pendidikan karakter yang berlandaskan Maqasid Syariah akan memastikan bahwa siswa tidak hanya belajar untuk mencapai keberhasilan individu, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kesejahteraan sosial dan moral masyarakat.
Kesimpulan
Pendidikan karakter dalam kurikulum modern harus dipandang sebagai komponen yang sangat penting untuk membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berintegritas dan memiliki tanggung jawab sosial. Mengingat pentingnya pendidikan karakter, perlu ada reformasi dalam kurikulum untuk memastikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler, tetapi menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses pembelajaran. Melalui penerapan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai moral berdasarkan Maqasid Syariah, serta memberikan pelatihan bagi guru untuk mengajarkan karakter dengan cara yang efektif, kita dapat menciptakan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Azmi, C., Murni, I., & Desyandri, D. (2023). Kurikulum Merdeka dan pengaruhnya pada perkembangan moral anak SD: Sebuah kajian literatur. Journal on Education, 6(1), 3283. https://doi.org/10.31004/joe.v6i1.3283
Mongkau, J. G., & Pangkey, R. D. (2024). Kurikulum Merdeka: Memperkuat keterampilan abad 21 untuk generasi emas. Journal on Education, 6(4), 6323. https://doi.org/10.31004/joe.v6i4.6323
Mursyidi, W., Fauziah, N. L., & Faznah, F. (2024). Internalisasi nilai-nilai karakter keislaman dari QS. Al-Hujurat ayat 11-12 dalam menghadapi fenomena hate speech di lingkungan pergaulan peserta didik. Journal on Education, 6(4), 6314. https://doi.org/10.31004/joe.v6i4.6314
Windayanti, W., Afnanda, M., Agustina, R., Kase, E. B., Safar, M., & Mokodenseho, S. (2023). Problematika guru dalam menerapkan kurikulum merdeka. Journal on Education, 6(1), 3197. https://doi.org/10.31004/joe.v6i1.3197
Wongkar, N. V, & Pangkey, R. D. H. (2024). Implementasi kurikulum merdeka dan pendidikan karakter: Strategi meningkatkan kualitas siswa di era modern. Journal on Education, 6(4), 6322. https://doi.org/10.31004/joe.v6i4.6322
Yunanto, F., & Kasanova, R. (2023). Membangun karakter mahasiswa Indonesia melalui pendidikan karakter. Journal on Education, 5(4), 2223. https://doi.org/10.31004/joe.v5i4.2223


Comment