Sejarah Islam mengajarkan bahwa kejayaan tidak lahir dalam semalam. Tiga belas tahun Rasulullah SAW berdakwah di Mekkah adalah fase penuh luka: dihina, ditekan, disiksa, bahkan dipaksa untuk menyerah. Namun beliau tidak berhenti. Itulah fase survive, fase ketika akar iman ditanam sedalam-dalamnya. Kemudian hijrah ke Madinah membuka babak baru. Hanya dalam sepuluh tahun, Islam tidak lagi sekadar bertahan, melainkan scale up menjadi peradaban yang memimpin dunia.
Jejak ini adalah cermin bagi kita di Persatuan Ummat Islam (PUI). Tiga tahun terakhir, Allah telah menganugerahkan langkah awal kebangkitan. Nama PUI mulai dikenal lebih luas, kebermanfaatannya dirasakan, pengakuan terhadap kiprah kita makin nyata. Tetapi ini baru langkah awal. Api kebangkitan itu harus menjalar ke cabang, ke daerah, ke ranting, bahkan ke teras rumah-rumah umat Islam di RT dan RW.
Ruh yang menghidupkan gerakan ini adalah ISLAH. Ia bukan sekadar kata indah, melainkan jalan hidup kita: memperbaiki yang rusak, menyatukan yang tercerai, menumbuhkan harmoni, dan menghadirkan manfaat nyata. Dengan Islah, kita ingin melahirkan masyarakat Islami yang cerdas dan sejahtera. Inilah amanah besar kita bersama.
Peter Drucker pernah berkata, “The best way to predict the future is to create it.” Masa depan PUI bukan untuk ditunggu, tetapi untuk kita cipta. John Kotter menegaskan, organisasi hanya akan bergerak bila memiliki sense of urgency. Dan urgensi itu ada di depan mata: Indonesia Emas 2045 tinggal dua puluh tahun lagi.
Pada 2030–2040, sekitar 69% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Jika diarahkan, ia bisa menjadi berkah terbesar bangsa ini. Tetapi jika dibiarkan, ia bisa menjadi beban yang menghancurkan. Di sinilah PUI harus hadir sebagai motor kebangkitan umat dan Bangsa Indonesia.
Kita bukan pendatang baru dalam sejarah bangsa. KH. Abdul Halim ikut dalam BPUPKI merumuskan dasar negara. KH. Ahmad Sanusi memimpin perlawanan bersenjata melawan penjajah. Para pendiri kita telah meletakkan darah dan gagasan demi kemerdekaan Indonesia. Maka hari ini, di abad kedua PUI, tugas kita adalah melanjutkan obor itu: membantu bangsa menjemput kejayaan Indonesia Emas 2045.
Pengurus, tokoh, dan warga PUI di seluruh penjuru negeri tidak boleh membiarkan gerakan ini meredup. Dari pusat yang kokoh, cabang harus dihidupkan, ranting digerakkan kebangkitan, dan akar dikuatkan hingga ke rumah-rumah umat Islam. Dari survive kita beranjak menuju scale up; dari organisasi yang sekadar dikenal menuju peradaban yang benar-benar dirasakan. Dengan ruh Islah yang terus menyala, keyakinan kita bulat bahwa PUI akan menjadi motor kejayaan umat dan bangsa.
H. Raizal Arifin, S.S., M.Sos.
Ketua Umum DPP PUI
(Azm)


Comment