MAKKAH― Ditemui di kota Makkah Al Mukaramah pada Senin (02 Maret 2026), Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Umat Islam (PUI) H. Raizal Arifin, S.S., M.Sos, memberikan tanggapanya di sela-sela ibadah umrah, terkait eskalasi konflik yang tengah terjadi di Iran, dan berpotensi merembet ke seluruh Kawasan di Timur Tengah. Raizal menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik AS-Israel versus Iran. Namun, ia juga mengingatkan kehati-hatian ekstra di tengah gejolak Timur Tengah pasca kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Raizal Arifin menyoroti respons positif dari pihak Iran, khususnya Kedutaan Iran di Jakarta. “Inisiatif ini menaikkan kelas Pak Prabowo menjadi international peace maker dan deal maker global, semacam Juru Damai bagi Dunia, yang mana selaras dengan peran strategis Indonesia di Board of Peace untuk stabilisasi Gaza,” ujarnya. Ia menekankan bahwa apresiasi Iran menunjukkan kepercayaan terhadap Indonesia dalam mengawal perdamaian. “Ini bukan sekadar bebas-aktif, tapi juga terkait kepentingan nasional kita, seperti menstabilkan harga energi global dan melindungi ekonomi domestik dari lonjakan harga minyak dunia.”
Raizal menambahkan bahwa Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz setelah adanya serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Beberapa pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar dan gas alam cair (LNG). “Tentunya ini akan berpengaruh terhadap rantai pasok global, dan Indonesia pasti terdampak. Terangnya.
Selain itu, Raizal memperingatkan perubahan drastis pasca serangan AS-Israel. “Situasi Timur Tengah sudah berubah total. Iran memasuki masa berkabung 40 hari, tapi Garda Revolusi berpotensi melakukan aksi retaliasi lebih keras. Ini berpotensi memicu proxy war Iran di Timur Tengah, bahkan perang regional yang lebih luas,” katanya. Di Asia Selatan, konflik Pakistan-Afghanistan juga memburuk, mengancam keamanan diaspora Indonesia di kawasan tersebut.
Raizal menekankan prioritas keselamatan WNI melalui peran Kemenlu dibawah kepemimpinan Menlu Sugiono. “Ada sekitar 70.000 WNI di Timur Tengah seperti UAE, Saudi, dan Qatar, plus ribuan di Pakistan-Afghanistan. Jika diperlukan evakuasi darurat, koordinasi KBRI harus jadi prioritas utama,” tegasnya. Ia juga mengingatkan skenario terburuk jika mediasi buntu: “Mediasi dapat berisiko jadi gimmick gagal jika distrust Iran-RI masih tinggi. Ada opsi untuk tunda dulu sambil pantau situasi di Teheran, antisipasi kita adalah untuk menghindari backlash dari AS-Israel yang dapat merugikan investasi dan stabilitas domestik kita.” Kata Raizal.
Ia menambahkan konteks geopolitik: Fokus Trump kini mendesak pergantian rezim di Iran, sesuatu yang didukung Netanyahu. Serangan fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan pada 22 Juni 2025 pada tahun lalu, Netayahu mengajukan proposal perubahan rezim yang belum disetujui Trump saat itu, namun situasi kini berubah.
Sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, PUI berkomitmen menjadi mitra kritis pemerintah. “Kami mendukung garis diplomasi Presiden Prabowo. PUI siap turun mengawal ke grassroot umat dengan fatwa dukungan dan doa bersama bagi perdamaian dunia. Kehati-hatian Presiden pada saat ini adalah kunci sukses kebijakan luar negeri Indonesia yang realistis,” pungkas Raizal.
Terakhir, menurut Raizal, PUI menginstruksikan seluruh jamaahnya untuk melaksanakan Qunut Nazilah sembari bersabar mencermati konflik Timur Tengah, serta tetap loyal terhadap instruksi DPP dan pimpinan PUI. []


Comment