III
Oleh : KH. Nazar Haris, Wakil Ketua Majelis Syuro PUI
Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, merenungkan jasa para pejuang yang membela tanah air. Namun muncul pertanyaan penting: apakah semua pahlawan pasti mulia di sisi Allah dan dijamin masuk surga? Dalam Islam jawabannya jelas: tidak. Reputasi dunia tidak otomatis menentukan nasib seseorang di akhirat.
Sejarah menunjukkan bahwa kepahlawanan itu relatif, dipengaruhi sudut pandang masing-masing kelompok. Snouck Hurgronje adalah pahlawan besar bagi Belanda, tetapi ia adalah perancang penderitaan umat Islam Aceh. *David Ben-Gurion* dimuliakan bangsa Israel sebagai bapak negara, tetapi bagi Palestina ia adalah arsitek penjajahan dan pembersihan etnis. Bahkan dalam sejarah Islam, Abu Jahl—yang terbunuh pada Perang Badar tahun 2 H—adalah simbol keberanian di mata Quraisy. Kematian “pahlawan Quraisy” ini menjadi pembakar semangat mereka dalam menyerang Madinah pada “Perang Uhud”.
Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa salah satu manusia pertama yang dilemparkan ke neraka adalah pahlawan perang. Ia berjuang gagah, namanya dipuji manusia, tetapi niatnya bukan untuk Allah, melainkan agar disebut pemberani. Kisah ini menunjukkan bahwa kepahlawanan lahiriah tidak menjamin kemuliaan di sisi Allah; yang menentukan adalah niat dan cara seseorang beragama.
Karena itu, memahami tipe manusia dalam beragama menjadi penting untuk menilai nilai kepahlawanan menurut Islam.
1. Beragama sebagai status sosial
Ada orang yang beragama hanya sebagai identitas: lahir sebagai Muslim, memakai atribut Muslim, tetapi tidak shalat, tidak belajar agama, dan tidak berusaha mendekat kepada Allah. Islam baginya hanya “nama”, bukan jalan hidup. Pahlawan tipe ini bisa dihormati manusia, tetapi tidak memiliki kedalaman iman.
2. Beragama untuk kepentingan duniawi
Tipe ini menjadikan agama sebagai alat mencari keuntungan: jabatan, suara, popularitas, atau bisnis. Contohnya golongan munafik Madinah, yang berpura-pura beriman demi keamanan politik. Di zaman modern, agama digunakan untuk citra, bukan sebagai komitmen. Kepahlawanan yang lahir dari kepentingan semacam ini hanya topeng yang tidak bernilai di akhirat.
3. Beragama dengan semangat loyalitas tanpa amal nyata
Ada orang yang penuh ghirah, lantang membela Islam, tetapi tidak mengamalkan ajarannya. Ia bicara tentang keadilan, tetapi tidak jujur; menyeru ukhuwah, tetapi menebar permusuhan. Ulama menyebut ini ta‘ashshub dini—fanatisme agama tanpa kedalaman. Kepahlawanan tipe ini lebih banyak suara daripada substansi.
4. Beragama karena warisan dan kebiasaan
Sebagian orang menjalankan agama hanya karena tradisi keluarga. Mereka tidak menolak agama, tetapi tidak pula mencari ilmu atau berusaha memahami kebenarannya. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai orang yang berkata, “Kami mengikuti nenek moyang kami.” Pahlawan tipe ini taat tradisi, tetapi tidak selalu taat tauhid.
5. Beragama dengan rasionalitas yang terlepas dari wahyu
Tipe ini menjadikan akal di atas wahyu, seperti sebagian kelompok Mu‘tazilah dan liberal modern. Mereka mengklaim beragama, tetapi hakikatnya menyeleksi agama berdasarkan logika manusia. Kepahlawanan berbasis akal saja mudah tergelincir, sebab akal tanpa wahyu tidak cukup menjadi kompas moral.
6. Beragama dengan keimanan sejati
Inilah mukmin sejati. Ia beramal karena Allah, mengabdi demi tauhid, dan menjadikan hidupnya sebagai ibadah. Allah menegaskan: “Sesungguhnya hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.” Pahlawan jenis inilah yang mulia di dunia dan akhirat: tulus, tegar, dan istiqamah.
Kisah Pahlawan Masuk Neraka
Suatu ketika para sahabat menyaksikan seorang prajurit yang bertempur heroik. “Ini singanya Allah,” kata mereka. Tetapi Nabi ﷺ bersabda, “Ia termasuk penghuni neraka.” Ternyata prajurit itu bunuh diri karena tidak sabar menanggung luka. Ia berjihad bukan karena Allah, tetapi karena ambisi. Kisah ini menunjukkan: niat adalah inti kepahlawanan.
Sumber Foto : Tirto.Id


Comment