Opini
Home » Berita » Umat Terpecah, Musuh Tertawa: Siapa yang Sebenarnya Kita Lawan?

Umat Terpecah, Musuh Tertawa: Siapa yang Sebenarnya Kita Lawan?

Oleh Rijalul Imam
Ketua Bidang Dakwah DPP Persatuan Ummat Islam (PUI)

Di saat langit Timur Tengah dipenuhi jejak rudal dan tanahnya basah oleh darah, ada satu medan perang lain yang tak kalah panas: pikiran umat Islam sendiri.
Di sana, tidak ada sirene. Tidak ada reruntuhan. Tapi ada sesuatu yang lebih sunyi dan berbahaya—perpecahan yang terasa benar, padahal justru melemahkan.
Perang Nyata vs Perang Narasi
Perang antara Iran, Israel, dan Amerika bukan sekadar konflik militer. Ia menjalar menjadi perang persepsi. Mentriger isu lama Sunni-Syiah.
Setiap kubu membangun cerita. Setiap cerita mencari pembenaran. Dan umat Islam, terseret ke dalamnya.
Sebagian sibuk membela Iran tanpa kritik.
Sebagian lain sibuk menyerang Iran dengan dalil agama.
Sebagian lagi membela negara-negara Arab tanpa melihat kompleksitasnya.
Akhirnya, yang terjadi bukan pencerahan—melainkan polarisasi.
Kita tidak lagi bertanya: apa yang benar?
Tapi kita hanya bertanya: siapa yang harus kita bela?
Kezaliman Tidak Punya Satu Wajah
Kebenaran jarang berdiri di satu sisi penuh.
Serangan awal yang memicu perang ini membawa dampak besar bagi stabilitas kawasan. Balasan yang terjadi setelahnya juga memperluas lingkaran konflik, termasuk ke wilayah negara-negara lain.
Artinya sederhana: kezaliman tidak eksklusif milik satu pihak.
Jika kita hanya melihat satu arah, kita sedang tidak mencari kebenaran—kita sedang memilih kenyamanan.
Arab, Iran, dan Ilusi “Blok Tunggal”
Narasi yang paling mudah dicerna biasanya juga yang paling menyesatkan.
“Arab begini.”
“Iran begitu.”
Seolah-olah semua negara Arab satu suara. Seolah-olah semua langkah Iran pasti benar atau pasti salah.
Padahal realitasnya jauh lebih rumit.
Ada kepentingan politik.
Ada tekanan keamanan.
Ada sejarah panjang yang membentuk sikap masing-masing negara.
Menyederhanakan semuanya menjadi hitam-putih hanya akan membuat kita mudah digiring, bukan mudah memahami.
Ketika Dalil Dijadikan Senjata
Salah satu gejala paling mengkhawatirkan adalah ketika hadits dan dalil agama digunakan sebagai alat untuk menyerang kelompok lain secara serampangan.
Riwayat tentang 70.000 dari Isfahan, misalnya, sering diangkat tanpa konteks dan langsung diarahkan kepada kelompok tertentu hari ini. Padahal haditsnya jelas 70.000 YAHUDI Isfahan.
Teksnya spesifik.
Tidak menyebut seluruh mazhab.
Tidak memberi izin untuk generalisasi.
Menggunakan dalil tanpa kehati-hatian bukan sekadar kesalahan ilmiah—
itu bisa menjadi bahan bakar perpecahan.
Kita Sedang Lupa Arah
Sementara umat berdebat, dunia nyata terus bergerak.
Gaza masih terluka.
Krisis energi memukul rakyat kecil di banyak negeri.
Ketegangan global meningkat.
Namun di ruang-ruang digital, yang ramai justru:
•⁠  ⁠Siapa yang lebih sesat
•⁠  ⁠Siapa yang lebih munafik
•⁠  ⁠Siapa yang harus dibenci
Seakan-akan kemenangan akan datang dari komentar yang paling keras.
Padahal musuh tidak perlu bekerja terlalu keras jika umat sudah sibuk saling melemahkan.
Berpikir Adil Itu Tidak Nyaman, Tapi Wajib
Islam tidak mengajarkan kita untuk membela pihak tertentu secara membabi buta.
Islam mengajarkan keadilan, bahkan kepada pihak yang tidak kita sukai. Artinya:
Kita bisa menolak kezaliman Israel dan Amerika, tanpa harus membenarkan semua tindakan Iran
Kita bisa mengkritik elite Arab, tanpa harus menghina seluruh bangsa Arab
Kita bisa berbeda mazhab, tanpa harus memproduksi kebencian
Keadilan sering terasa “tidak memuaskan” secara emosi.
Tapi justru di situlah nilai iman diuji.
Musuh Sebenarnya
Pertanyaannya bukan lagi: kamu di pihak mana?
Pertanyaannya adalah: Apakah kita masih mampu melihat kebenaran tanpa dibutakan oleh identitas?
Musuh umat bukan hanya negara-negara zalim.
Bukan hanya militer zalim.
Musuh umat juga adalah:
•⁠  ⁠kebodohan yang merasa paling benar
•⁠  ⁠fanatisme yang menutup akal
•⁠  ⁠narasi yang memecah belah
Dan yang paling berbahaya:
ketika semua itu terasa seperti kebenaran.
Menyatukan yang Tersisa
Persatuan umat tidak berarti semua sepakat dalam politik.
Persatuan berarti kita tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menghancurkan.
Di tengah dunia yang bising oleh propaganda, mungkin bentuk jihad yang paling sunyi adalah:
•⁠  ⁠berpikir jernih
•⁠  ⁠bersikap adil
•⁠  ⁠menahan diri dari menyebarkan kebencian
Karena pada akhirnya, musuh tidak selalu menang karena kekuatannya.
kadang ia menang karena kita lupa cara berdiri bersama.
Dan ketika umat terpecah, yang tertawa bukan hanya satu pihak—melainkan semua yang diuntungkan dari perpecahan itu.

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *