Nasihat
Home » Berita » Bukan Dengan Amarah, Tapi Dengan Hikmah: Pelajaran dari KH Ahmad Sanusi dan Dakwah Wasathiyah PUI

Bukan Dengan Amarah, Tapi Dengan Hikmah: Pelajaran dari KH Ahmad Sanusi dan Dakwah Wasathiyah PUI

Jakarta sedang resah. Suara massa terdengar nyaring, langkah-langkah berpadu dalam semangat yang menyala. Di antara spanduk dan seruan, terselip tanya yang tak kalah penting: ke mana arah bangsa ini akan dibawa?

Dalam riuh itu, kita perlu menarik napas sejenak dan kembali menengok jejak para pendahulu, salah satunya KH Ahmad Sanusi. Seorang ulama dan pejuang, yang hadir tak hanya di balik podium, tapi juga dalam ruang-ruang pengambilan keputusan penting di masa awal republik berdiri. Sebagai anggota BPUPKI, beliau turut merumuskan fondasi bangsa dengan semangat kebangsaan yang inklusif.

Ajengan Sanusi memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam yang sejuk dapat hidup berdampingan dengan semangat kebangsaan. Ia membawa pesan damai dan perbaikan, islah, sebagai jalan tengah dalam merawat perbedaan, bukan dengan pemaksaan, melainkan dengan kasih dan hikmah.

Hari ini, di tengah dinamika yang berkembang, penyampaian aspirasi adalah bagian dari kehidupan demokratis. Namun, menjaga ekspresi itu tetap dalam koridor damai adalah kunci agar suara yang disampaikan tidak kehilangan makna, dan semangat perubahan tidak menjelma menjadi luka baru.

Menahan diri bukan berarti menyerah. Itu justru cermin kedewasaan dan kepemimpinan moral. Di saat emosi meluap, jalan hikmah mengajak kita untuk mencari solusi bersama, bukan perpecahan.

Hj Neni Fauziah: Dzikir Mishbahul Falah Akan Menguatkan Hati dan Persatuan Warga PUI

Inilah nilai-nilai dakwah wasathiyah yang diusung PUI : seimbang dalam berpikir, adil dalam bertindak, dan bijak dalam menyikapi.

Di tengah perbedaan, kita bisa memilih jalan dialog, bukan konfrontasi.
Bangsa ini dibangun dari keringat dan doa para pendiri yang mencintai Indonesia dengan akhlak. Maka jika kita mengaku mencintai negeri ini, mari jaga ia bukan hanya dengan suara, tapi juga dengan jiwa.

Indonesia tak kekurangan semangat. Yang dibutuhkan kini adalah ketenangan, agar bangsa ini tidak hanya bersuara, tetapi pulih diatas Luka.

(Azm)

Kepahlawanan dalam Islam: Antara Sanjungan Manusia dan Nilai di Sisi Allah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *